Kisah Nyata Kehidupan Si Kupu-Kupu Malam, Sang Bidadari Terakhir


CATATAN: TULISAN INI MENJADI TULISAN TERAKHIR YANG DITINGGALKAN DAN MENJADI KENANGAN BAGI YANG MENCINTAI DAN MENGENANGNYA SEBAGAI BIDADARI TERAKHIR.


"Karena sekeras apapun aku berpikir tentangmu-hanya ada satu hal yang bisa kupahami bahwa kaulah hal terindah yang pernah kumiliki dalam hidup ini." 
~ @agnesdavonar

Diangkat dari sebuah kisah nyata kehidupan cinta seorang Kaskuser yang pernah pacaran dengan PSK. Kisah ini di-remake dan diposting dalam fb notes oleh Agnes Davonar di fb page miliknya (lihat di https://facebook.com/notes/agnes-davonar/bidadari-terakhir-kisah-nyata-hidup-seorang-kupu-kupu-malam/454774241220344/).

Di fb notes-nya, Agnes mengungkapkan bahwa dia diminta sendiri oleh sang narasumber Kaskuser tersebut, dan seandainya di media online semisal blog mengaku bahwa cerita ini adalah pengalaman mereka sendiri -bukan sang Kaskuser, bahkan sebuah blog mencatut nama sang PSK adalah PSK Sri Kuncoro! -semua kisah itu adalah kisah yang sama, bahwa itu adalah bersumber dari kisah yang sama, yaitu kisah nyata sang Kaskuser. Dan untuk kepentingan naskah agar mudah dicerna serta melindungi privacy narasumber, Agnes mengubah (tetapi hanya sedikit saja) konten dalam ceritanya tersebut.



Kisah sang Kaskuser selanjutnya menginspirasi Agnes Davonar dalam penulisan novelnya "Bidadari Terakhir" (Maret 2013), yang mengisahkan tentang seorang anak SMA yang berpacaran dengan kupu-kupu malam (PSK). Memang menyedihkan dan susah dipercaya, karena kisah di novel ini ternyata adalah sebuah kisah kehidupan nyata. Oke, selamat membaca... :)

Draft asli fb notes:

Malam itu, seharusnya bukan jadi malam milik gua. Malam yang sesungguhnya bukanlah yang gua harapkan. Adit, temen kecil gua. Entah harus bagaimana gua mengatakan? Tiba-tiba ketika habis pulang dari hang out di kafe, mengarahkan motornya ke sebuah tempat yang mungkin baru dalam hidup gua. Tempat pelacuran, ya.. semua juga tau kalau daerah yang sedang gua injakkan kaki ini adalah daerah protistusi. Gua sempat protes sama Adit, kenapa tiba-tiba ngajak gua ke tempat kayak ginian. Umur gua kan masih 17 tahun dan baru aja dapat KTP resmi seumur-umur hidup gua.

Gua gak bisa ngelarang teman gua untuk menyalurkan apa yang dia inginkan walaupun harus dengan cara seperti ini. Yang terbaik buat gua adalah tidak ikut dalam permainan dia. Akhirnya kita berdua memarkirkan motor di sebuah rumah. Banyak cewek-cewek cantik yang berdiri sambil menggoda. Adit masuk, dan gua memutuskan untuk tunggu di luar. Sesekali dia nanya ke gua,

“Yakin loe gak mau coba? Gua bayarin deh!”

“Ogah, gua masih tahan iman, loe aja sana! Jangan pakai lama! Entar kalau digrebek polisi, disangka gua lagi yang mau!”

“Iya-iya, anteng aja loe disana...“

Dengan wajah cemburut dan tatapan beberapa perempuan gua seperti orang bego yang nunggu di luar sambil megangin helm gua. Adit uda memilih cewek yang harus jadi teman dia malam itu. Gua menunggu di luar dan tiba-tiba salah satu cewek di dalam rumah itu keluar sambil menghisap rokok. Dia ngeliat gua, lalu menawarkan rokok kepada gua.

“Enggak makasih, gua gak ngerokok,“ kata gua menolak dengan halus.

“Hah, jaman gini masih ada yang gak ngerokok.. aneh..” Tanya cewek itu dan gua hanya senyum-senyum.

Dia duduk di sebelah gua, menatap mata gua dengan tajam sambil sesekali membuang asap rokok ke langit-langit atap.

“Kok nunggu disini, ga ikutan aja sama temen kamu!”

“Enggak, biarian aja si Adit yang pengen, cuma nemenin aja.”

“Uda, loe sama gua aja mau?“

Gua memandang cewek di samping gua, sejujurnya dia cewek yang cantik, putih dan idaman gua. Tapi ketika dia menawarkan dirinya ke gua, tiba-tiba gua jadi illfeel. Kenapa cewek secantik ini harus menjadi seorang pelacur, dunia ini memang gak adil.

“Enggak mbak, makasih.”

“Uda maulah, gua kasih diskon..“ tawar dia lagi.

“Beneran mbak, saya gak mau..” tolak gua dengan halus.

“Apes deh gua, dari tadi gak ada yang mau ama gua..”

“Loh mbak kan cantik, kok ga ada yang mau..!”

“Ya nasib lah, namanya juga jualan, kadang laku, kadang kagak, malah gua lagi ada masalah lagi...”

Entah mengapa gua jadi merasa ingin tau masalah dia.

“Masalah apa mbak?” tanya gua.

“Umur loe berapa?” tanya dia ke gua.

“Masuk 17 tahun ini..“

“Yailah, masih brondong, masih belum tau namanya dunia dewasa..” ledek dia.

“Kata siapa.. setiap orang punya masalah, gak mandang gede atau kecil umurnya.”

Dia melihat gua, mungkin dia merasa gua pinter merangkai kata-kata.

“Kayanya loe bukan cowok brengsek ya.. Beda sama cowok-cowok yang suka kesini cuma pengen cari cewek buat kesenangan sesaat.”

Gua tersenyum manyun dipuji dia.

“Hehe, ga semua cowok brengsek kok mbak..”

“Mungkin aja… Hm.. gua lagi butuh duit..” kata dia tiba-tiba.

Dalam hati gua, mungkin ini masalah klasik. Kalau ga butuh duit, buat apa dia kerja sebagai pelacur.

“Maaf kalau boleh tau, duit buat apa ya?”

“Nasib jadi orang miskin, selalu kena masalah, nyokap gua tiba-tiba ada benjolan di perut, kemarin sempat di bawa ke puskemas, kata dokter sih tumor ringan. Mesti cepat-cepat di operasi kata dokter, tapi ya tau sendiri negara kita, apa-apa butuh duit. Ujung-ujungnya duit buat operasi. Makanya gua lagi sial, semingguan ini jarang dapat pelanggan. Apes...”

Entah mengapa, gua merasa, ada kejujuran dari apa yang cewek ini omongin. Dia gak seperti lagi sandiwara.

“Namanya mbak siapa?”

“Panggil gua Eva aja! Loe?”

“Gua, Rasya..“

Tiba-tiba kita terdiam, melihat wajahnya yang tampak sedih sehabis cerita kehidupan dia, gua merasa iba dan menawarkan dia setulus hati.

“Kalau Eva emang butuh duit, gua ada, tapi gak banyak, kali-kali aja bisa bantuin nutupin kekurangan.”

Dia ngeliat gua.

“Loe kan masih 17 tahun, mau dapat duit dari mana 1,5 juta kekurangang gue...”

“Oo, jadi kurangnya 1,5 juta. Tenang aja Va, gua ada kok kalau segitu, tapi kalau sekarang.. gua ga bawa duitnya.. kalau besok gimana?”

Dia tertawa kecil.

“Gua sih uda biasa digombalin sama pelanggan. Tapi kalau digombalin berondong sih baru kali ini..” ledek dia.

“Sumpah gua ga bohong, gini aja, nomor handphone loe berapa? Nanti besok gua telepon dan kasih duitnya, tapi jangan disini ya.. soalnya gua ga nyaman..”

“Terserah mau dimana, neh nomor gue..” kata dia sambil ngasih kertas dengan angka nomor telepon dia.

"Inget loe, gua ini bukan orang baik."

"Gua juga bukan orang baik. Tapi juga bukan orang jahat, gua dan loe hanya terlahir di dunia yang keduanya gak bisa kita hindari.."

Tiba-tiba Adit selesai, dan dia langsung menuju gua. Sebelum Adit ngajak gua pergi, gua pamitan sama Eva. Dia tersenyum. Dari wajahnya gua tau, dia pasti berharap banget apa yang gua katakan ke dia itu benar. Walau sebenarnya gua sendiri ga punya duit sebanyak yang dia mau. Duit yang gua punya cuma ada 900 ribu dan masih kurang 600 ribu buat ngasih ke Eva. Akhirnya gua mesti nunggu seminggu hingga terkumpul 1,5 juta.

Bermodalkan duit yang sesungguhnya hasil uang jajan gua. Akhirnya gua nelepon dia. Sebelum memastikan apa Eva benar-benar sungguh-sungguh atau bohong, gua sempet survey ke PSK sekitar tempat kerja Eva dan hasilnya positif dia ga bohong makanya gua usahain duit terkumpul cepat.

Eva terkejut ketika gua nelepon dia, gua meminta janjian ketemu sama dia di kafe yang telah gua tentukan. Seumur-umur dalam hidup gua, baru kali ini gua beramal cukup besar untuk orang lain. Gua masukan duit itu dalam tas gua. Mungkin bonyok (bokap nyokap) gua akan marah besar kalau tau duit jajan gua habis untuk dia. Tapi gua cukup beruntung terlahir dari keluarga yang mampu, jadi gua yakin bonyok gak akan tega biarin gua hidup tanpa duit sedikitpun andai gua bilang, gua butuh duit.

ஐ f⊕L∮ g∀ΓdΞη ஐ~*

Eva muncul dengan pakaian yang lebih tertutup dibanding pertama kali gua lihat. Kita makan dan sesekali gua jelaskan kenapa gua baru hubungi dia dengan alasan sibuk ujian, padahal sesungguhya sibuk nabung untuk bantu dia. Eva mungkin gak pernah kepikiran kalau gua ngajak dia ketemu untuk bantu keuangan dia, dia lebih berpikir kalau gua ini ketemu dia sebagai seseorang yang membutuhkan dia seperti laki-laki lainnya.

Kita sempat jalan-jalan sebentar sampai akhirnya motor gua membawa dia ke pantai. Kebetulan mall di kota gua selalu dekat dengan pantai. Gua duduk disamping dia. Dia langsung menyodorkan pertanyaan.

“Sebenarnya, loe manggil gua untuk make gua? Atau temenin loe jalan sih?”

“Coba tebak?” tanya gua.

“Dua-duanya juga ga masalah, gua uda lama gak jalan sama cowok. Terakhir pacaran juga apes. Dari sekian cowok yang nembak gua, cuma dia yang gua terima. Ujung-ujungnya cowok emang brengsek. Cuma mau tidur sama gue.. makanya sejak sekarang gua mati rasa sama yang namanya cinta..!”

“Loh kayaknya loe dendam banget ya sama cowok. Maaf loh kalau lancang, cuma ngerasa gitu.”

“Ngapain minta maaf, emang nasib gua kok. Terlahir sebagai cewek hina, miskin, keluarga berantakan. Lonte..” tiba-tiba Eva nangis dengan kalimat terakhir itu.

“Loe nangis..” tanya gua jadi ikut sedih.

“Lonte.. gua uda sering denger kalimat itu dari mulut orang lain buat gua, rasanya nyakitin banget. Asal loe tau, kalau aja dunia ini lebih indah dari yang gua mau. Gua juga gak mau jadi lonte..  Siapa sih di dunia ini yang mau jadi pelacur, lonte. Ini karena terpaksa. Masih ada adik sama keluarga yang butuh gua untuk bertahan hidup..”

“Eva.. jangan nangis dong. Tujuan gua kesini, Cuma pengen ngasih ini..” kata gua sambil ngasih duit ke dia.

“Gua emang masih berondong seperti yang loe bilang, tapi gua juga punya hati. Walau hidup gua cukup, tapi gua mengerti perasaan loe.. mungkin Tuhan cuma lagi kasih ujian buat hidup loe. Kalau pun itu berat saat ini, gua harap bantuan dari gua, bisa bantu meringankan beban loe..”

“Loe.. kenapa sih mau bantu gua.. kan gua ini bukan siapa-siapa loe, bukan temen loe.  Bahkan bukan orang yang pantes kenal sama loe..” kata dia sambil menangis.

“Gua juga gak tau. Yang jelas, kita uda ditakdirkan buat jadi orang yang mengenal.. Gua senang kok kenal sama loe. Sekarang pakai duit ini buat operasi nyokap loe ya.. Biar cepat sembuh dan loe bisa kerja yang lain.. bukan seperti sekarang..”

Dia terdiam sambil merenung.

“Kalau pun gua gak kerja kayak gini, gua juga uda pasti gak ada yang mau. Palingan laki-laki brengsek yang mau sama gua..”

“Kata siapa gak ada yang mau..”

“Ya kata gua lah.. Mana ada sih yang mau sama bekas pelacur!! Bekas lonte..”

“Gua mau..”

Eva terdiam mendengar kalimat gua.

“Umur loe masih muda, belum tau yang namanya cinta.  Ya sudah, terima kasih buat bantuan loe. Kelak kalau gua ada duit. Gua akan balikin duit ini.. sekali lagi, terimakasih.”

“Sama-sama Eva..”

Selang beberapa hari, Eva sempat SMS dan memberi kabar ke gua kalau nyokapnya sukses dengan operasi dia. Kita jadi rutin saling SMS dan telepon hingga akhirnya dia ngundang gua ke rumah dia untuk bertemu nyokap dia. Gua menerima tawaran dia sekaligus ingin tau apakah benar kalau nyokap dia habis dioperasi. Ketika gua sampai kerumah, nyokapnya berlinang air mata ngucapin terima kasih, gua bersyukur ternyata Eva jujur apa adanya. Dan yang paling gua senang, dia bilang ke gua, kalau dia lagi cari kerjaan buat hidup sebagai orang bersih.

Saat itu, tanpa sepengetahuan Eva. Bokap tirinya tiba-tiba minjem duit ke gua, dia bilang buat bayar utang. Karena gua gak enak nolak, akhirnya gua kasih duit ke bokapnya tanpa sepentahuan Eva. Gua juga sering bantuin ngaterin Eva untuk cari kerjaan yang baik. Sampai akhinya dia dapat kerjaan sementara. Selama ini, keluarga dia gak tau kalau Eva kerja sebagai pelacur, Eva berusaha nutupin dan akhirnya lembaran gelap itu terkubur dengan sendirinya.

Tanpa kita sadari, gua dan Eva samakin dekat. Setelah pendekatan itu, akhirnya kita menjadi sepasang kekasih. Mungkin cinta itu memang buta ya, baru kali ini gua merasakan cinta yang begitu dalam dari seorang perempuan di usia gua yang masih muda. Ketika dulu gua punya cinta monyet. Gua gak pernah ngerasa sebahagia ini selain bersama Eva. Walaupun dia punya masa lalu kelam, cinta berhasil membuat gua menghapus semua pandangan buruk itu. Seminggu setelah jadian, dengang uang jajan yang gua kumpulin, gua membeli cincin yang sama untuk kita pakai sebagai lambang cinta. Buat Eva mungkin ini aneh, tapi dia sadar, gua masih brondong dan pasti gaya pacarannya juga kayak sinetron di TV jadi dia maklumin.

Tapi sepanjang waktu kami pacaran, gua merasa Eva semakin hari semakin kurus dan tubuhnya jadi lemes gitu, ketika gua tanya ke dia, dia cuma bilang kalau dia mungkin kecapean. Tapi sebenarnya ada hal yang gua takutkan dengan kondisi dia. Gua masih ingat, untuk memastikan kalau Eva ga bohong pas bilang butuh duit, gua sempat kembali ke tempat pelacuran dia kerja, dan iseng-iseng gua ngobrol sama cewek disana tentang dia.

“Loe siapanya Eva?”

“Temen aja mbak, kalau boleh tau, dia kan cantik, kok bisa ga ada pelanggan sih?”

“Nasib mas, Eva kena penyakit sifilis (penyakit kelamin). Kayaknya banyak pelanggan yang uda tau dia itu kena penyakit gituan, makanya ga ada yang mau sama dia! Disini kan persaingan ketat, ada yang bocorin gitu, makanya kasihan dia..”
“Nasib mas, Eva kena penyakit sifilis (penyakit kelamin). Kayaknya banyak pelanggan yang uda tau dia itu kena penyakit gituan, makanya ga ada yang mau sama dia! Disini kan persaingan ketat, ada yang bocorin gitu, makanya kasihan dia...”
“Kenapa ga berobat aja dia..?”

“Maunya sih gitu! Tapi nyokapnya kan sakit, jadi dia mati-matian cari duit buat nyokap dia dulu, baru nanti mikirin sembuhin penyakit dia..“

“Kasihan ya..”

“Iya mas, susah hidup sekarang. Saya yang dulu anterin dia ke dokter aja jadi sedih kalau bayangin hidup dia..”

Dari apa yang teman dia bilang, gua jadi yakin kalau Eva jadi kurus ini pasti karena penyakit dia dulu. Walau dia ga pernah mau cerita ke gua, mungkin karena dia takut. Kalau dia penyakitan maka gua akan ninggalin dia. Padahal gua gak pernah peduli dengan sakitnya dia. Sakit Eva makin buruk sampai akhirnya dia ga kerja. Gua akhirnya nyamperin ke rumah, dan dia ga bisa bangun karena tiba-tiba tubuhnya jadi kayak lumpuh gitu.
Saat itu juga gua putuskan untuk bawa dia ke rumah sakit, dia sempat menolak.

“Rasya, rumah sakit itu mahal, orang miskin kayak gua kalau sakit itu ga ada keadilan, jadi biarin aja gua minum obat biasa, nanti juga sembuh.”

“Loe itu uda gak bisa bangun. Gak usah pikirin duit. Gua ada tabungan, yang penting sekarang kita ke rumah sakit.”

Dengan penuh kesedihan, akhirnya Eva gak bisa nolak kemauan gua. Gua menggendong dia sampai ke rumah sakit, dia dirawat dan dokter mengatakan ke gua dengan berat hati kalau Eva sudah kenapa sifilis akut dan seluruh tubuhnya uda terkontiminasi sama sel-sel neurosifilis yang kemungkinan sembuhnya kecil. Dengan penuh air mata gua memohon kepada dokter untuk sembuhin dia. Gua dan nyokap serta adiknya saling bergantian jaga dia. Saat itu lagi ujian akhir kelulusan sekolah, gua harus bertahan dalam dua hal. Konsetrasi ke ujian dan konsetrasi ke Eva.

Mungkin kedua cobaan itu berat tapi akhirnya gua berhasil mengerjakan semua ujian yang datang silih berganti bersamaan dengan waktu gua menjaga Eva. Eva semakin kritis. Dia gak banyak bicara lagi seperti sebelumnya. Sepertinya dia tau, hidup dia tidak akan lama lagi. Dia nyerahin sebuah diary ke gua. Dimana disana dia bilang hanya boleh dibaca setelah tiba saatnya nanti.

“Jangan dibuka ya sampai nanti kalau gua uda ga bisa bangun lagi..”

“Kok loe ngomong gitu..”

“Say, mungkin.. selama ini gua gak pernah jujur tentang panyakit gua, tapi gua cuma ga mau kalau loe tau gua punya penyakit ini, loe ninggalin gua. Ternyata gua salah, loe benar-benar hadiah paling indah dalam hidup ini yang dikasih Tuhan buat gua. Gua pikir.. Tuhan gak akan pernah ngasih kebahagiaan buat gua karena memang gua ga pantes. Ternyata gua salah, Tuhan itu adil. Dan keadilan itu dia tunjukkan lewat loe..”

“Jangan ngomong gitu Eva.. gua yang harusnya bersyukur punya pacar seperti loe dalam hidup gua, loe benar-benar anugerah.. loe harus kuat ya, kita sama-sama berjuang untuk kebahagiaan kita..”

Eva hanya menangis mendengar gua bicara begitu. Gua pun menangis. Entah mengapa, gua seperti merasa ini adalah ujung dari akhir kisah kami.

“Say, gua mau minta tolong satu hal lagi sama loe.. Boleh?”

“Ngomong aja Eva, kita kan pacaran, terbuka aja..”

“Gua gak punya apa-apa untuk ngasih loe sebagai balasan atas kebaikan loe, tapi gua cuma punya ini.. bisa loe ambil kalung ini dari leher gua, soalnya.. tangan gua uda gak bisa bergerak lagi..”

“Kenapa bicara begitu..?”

“Plz.. ambil,” dengan berat hati gua melepas kalung itu dan mengambilnya.

“Disimpan ya.. sama buku harian yang gua tulis itu..”

“Iya Eva.. tadi kamu bilang mau minta tolong, kenapa gak dilanjutkan?”

“Kalau gua mati, tolong jangan kubur gua di sini, gua mau dikubur di tanah kelahiran gua.. bisa?”

Mendengar kalimat itu dari mulut dia. Hati gua hancur. Gua gak tau harus bagaimana mengungkapkan kata-kata yang pantas untuk membuat gua bangkit dan percaya kalau dia akan sembuh. Gua hanya bisa menangis dan mengiyakan permintaan dia. Karena ada ujian lagi besok. Gua pamitan sama dia. Gua mencium kening dia dan dengan berat hati saat itulah gua merasa ini terakhir kalinya gua akan melihat dia.

Dengan penuh tangis, gua pulang dan berharap Tuhan sekali lagi memberikan keadilan untuk hidup dia. Besoknya gua ujian terakhir dan ketika gua ingin jenguk dia, gua melihat sudah banyak orang di kamar dia dirawat. Semua menangis dan disitulah gua tau, Eva telah pergi untuk selamanya. Gua hanya bisa tertunduk lesuh dan menangis dalam hati. Berat rasanya harus melepas kebahagiaan sesaat yang ada dalam hidup gua. Permintaan terakhirnya untuk dimakamkan di tanah kelahirannya gua lakukan sebagai tanda cinta terindah dalam hidup gua untuk dia.

Kini, gua menyadari bahwa. Hidup itu sesungguhnya tidak pernah memihak kepada siapapun di dunia ini. Tapi hidup itu membuat kita hanya bisa memihak kepada satu hal, bertahan untuk hidup dengan segala cara apapun. Eva mungkin telah berjuang hidup dengan ketidakberpihakan hidup tapi ia berhasil membuktikan kepada gua kalau disaat akhir hidupnya, dia benar-benar merasakan keadilan hidup sesungguhnya. Dengan cinta dan kasih sayang murni tanpa air mata penderitaan. Dia mampu mengubah dirinya yang dulu adalah makhluk hina menjadi seorang bidadari, walaupun itu hanya di hati gua, tapi gua percaya kelak semua orang akan setuju dengan apa yang gua bilang kalau dia adalah bidadari terakhir yang hidup di dunia ini.

Saat hanya bisa mengenangnya, hanya buku harian ini yang tersimpan dan membuat hati gua merasa mungkin jalan terbaik dalam hidup kita adalah seperti saat ini. 30 April 2010, itulah hari paling memilukan dalam hidup gua, dimana saat itulah gua memiliki kesempatan untuk membaca tulisan terakhir Eva untuk gua..


To: My Lovely... 

Dear, makasih kamu udah mau jadi pendamping aku selama ini... Makasih juga udah mau jadi malaikat penyelamat untuk ibu aku... 

Andaikan kamu tau aku punya penyakit gini, aku yakin kamu pasti kecewa trus tinggalin aku, yakin banget makanya aku ngerahasiain ini semua... Maaf ya? 

Dear, Kamu laki-laki paling baik yang pernah aku temuin, kamu mau terima aku apa adanya.. 
Aku perempuan kotor, miskin, keluarga semrawut, tapi kamu tetep mau deket ma aku.  

Dear, andaikan aku udah gak hidup lagi di dunia ini, kamu jangan sedih ya? 
Masih banyak perempuan yang lebih baik dari aku.. 

Kamu orang baik, harus punya pendamping yang baik juga :') 
Inget, jangan lagi datang-datang ke tempat kotor gitu. 
Setebal apapun iman kamu, pasti bisa runtuh ama yang namanya perempuan. 

Dear, walau dunia kita udah beda, aku tetep ada di hati kamu kan? Janji? 
Aku akan slalu disampingkamu, aku akan jaga kamu....... 

Maaf andai slama ini aku&keluarga udah nyusahin kamu :* 

Goodbye... :)


Your Lovely

Bitch, Eva
  

Semoga kamu bahagia di sana Eva, aku selalu ada untuk kamu walau kita telah berbeda dalam dunia ini. Dan percayalah loe adalah bidadari terakhir dalam hidup gua.

Tamat

Tulisan dan kalung serta cincin kenangan cinta Eva dan Rasya.


UNTUK KEPENTINGAN NARASUMBER DAN HAK PRIVACY MAKA NAMA SUMBER DIRAHASIAKAN.

SEMOGA KISAH INI MEMBERIKAN PELAJARAN UNTUK KITA, UNTUK LEBIH MENGHARGAI SETIAP KEHIDUPAN.

Follow me in https://twitter.com/agnesdavonar or @agnesdavonar for mentions twitter.


Tentang Agnes Davonar: 

Agnes Davonar adalah penulis yang memulai kariernya dari blog dan terpilih sebagai duta blog se-Asia Pasifik mewakili Indonesia tahun 2010 pada ajang Piala Dunia Afsel dan menjadi blogger terbaik Indonesia di tahun yang sama. Ia melahirkan 10 novel bestseller dan salah satu novel yang diadaptasi ke layar lebar "Surat Kecil untuk Tuhan" menjadi film nomor satu box office 2011, dan 5 dari novelnya semua telah diadaptasi ke layar lebar. Website pribadinya bisa diakses di http://www.agnesdavonar.net




Kredit konten: fb notes Agnes Davonar



Peranan DNA dalam Cetak Biru Kehidupan Manusia

Salah satu hal yang sangat berperan dalam upaya kita meningkatkan takwa pada Allah SWT adalah mengingat mati dan kehidupan di akhirat. Bahwa semua makhluk tanpa kecuali akan meninggalkan dunia yang sementara ini. Entah nanti, atau besok, seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, kita semua pasti akan mati. كل نفس ذائقة الموت (Setiap makhluk hidup pasti akan mati). Dan kita, sebagai umat Islam memang diperintahkan untuk sering-sering ingat mati agar hidup kita menjadi baik. Nabi bersabda: أكثروا ذكر هاذم اللذات (Perbanyaklah mengingat pemutus keenakan duniawi).

Selanjutnya, berkaitan dengan kehidupan di akhirat, ada dua hal utama yang harus selalu menjadi peringatan bagi kita. Pertama, bahwa hidup di dunia ini teramat sangat sementara, dan hidup di akhirat itu tiada batasnya. Andaikan saja kita dikaruniai umur panjang sampai 100 tahun, maka sebenarnya itu hanyalah sepersepuluh hari akhirat. Sebab 1 hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia.

Ini didasarkan pada ayat ke-7 surat As-Sajdah yang berarti:

"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNYA dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu."

Jadi, secara matematis masa 100 tahun di dunia = 2 jam 24 menit (menurut perhitungan akhirat). Lebih detil lagi, 1 jam akhirat = 41,66 tahun, 1 menit = sekitar 255 hari, dan 1 detik = 4,25 hari.

Kedua, bahwa semua perbuatan yang kita lakukan di dunia terekam oleh tubuh kita. Kita harus tahu bahwa agama kita tidak mengajarkan apa yang sering diungkapkan orang “surgo nunut neroko katut” (ke surga numpang, ke neraka ikut). Karena yang benar adalah, orang masuk surga karena amal baiknya, dan yang masuk neraka karena kesalahannya sendiri. Sehingga ada sebuah ilustrasi (penggambaran) di dalam al-Quran surat al-Anam ayat 94. Seolah-olah ketika nanti di hari Kiamat dan kita berbondong-bondong menuju pengadilan Allah, terpampang sebuah sepanduk besar yang artinya:

"Dan sungguh kalian telah datang kepada kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami ciptakan kalian pada mulanya. Dan kalian tinggalkan di dunia apa yang telah Kami karuniakan pada kalian. dan Kami tiada melihat bersama kalian pemberi syafa’at yang kalian anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu. Sungguh telah terputus hubungan-hubungan di antara kalian dan lenyaplah apa yang dahulu (di dunia) kalian anggap (sebagai sekutu Allah)."

Kita lahir di dunia dari dua garba ibu sebagai pribadi-pribadi. Tetapi kemudian kita dituntut untuk hidup yang baik. Dan kebaikan kita di dunia ini selalu diukur secara sosial. Perbuatan baik adalah perbuatan baik dalam konteks sosial. Itulah makanya manusia disebut makhluk sosial. Makhluk yang harus selalu memikirkan sesamanya. Seperti dilambangkan dalam ucapan terakhir setiap kali kita salat, yaitu assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh (semoga keselamatan dan keberkahan dari Allah senantiasa tercurah untuk kalian) sambil menengok ke kanan dan kiri. Seakan ini adalah peringatan dari Allah SWT, “Kalau kamu sudah melaksanakan salat untuk mengingatku, maka sekarang buktikan bahwa kamu mempunyai tekad baik untuk memperhatikan sesama makhluk di sekitarmu. Tengoklah kanan-kirimu karena masih banyak yang membutuhkan bantuan.”

Jadi kita menjadi makhluk sosial di dunia ini. Tapi ketika kita mati nanti, dan memasuki alam kubur, kita menjadi makhluk pribadi kembali. Seluruh perbuatan kita di dunia, baik dan buruk, hanya kita sendiri yang menanggung. Allah telah memperingatkan dalam surat Luqman ayat 33 yang artinya:

"Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia menipu kalian, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kalian."

Pengadilan Allah sama sekali tidak menerima tebusan. Tebusan (عدل) dalam sistem hukum negara kita tidak dikenal. Makanya orang yang sedang menjalani hukuman di penjara, kalau dia mau keluar untuk sementara dia harus menyuap petugas. Istilahnya menyuap tidak menebus. Tapi di negara Inggris, sistem hukumnya mengakui adanya tebusan, atau dikenal dengan istilah bail. Di akhirat kelak, sama sekali tidak ada tebusan apalagi suap. Semuanya harus berhadapan dengan Allah sendiri-sendiri. Praktek pengadilan Ilahi di hari akhirat kelak telah dijelaskan dengan gamblang dalam surat Yasin ayat 65 yang artinya:

"Pada hari itu Kami bungkam mulut-mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka, sedankan kaki-kaki mereka memberikan kesaksian atas apa yang telah mereka kerjakan di dunia."
"Pada hari itu Kami bungkam mulut-mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka, sedangkan kaki-kaki mereka memberikan kesaksian atas apa yang telah mereka kerjakan di dunia."
Jadi, badan kita ini akan menjadi saksi. Jika mulut mencoba mengingkari suatu tuduhan dalam pengadilan Allah nanti, maka yang akan membantah adalah tangan kita sendiri, dan kaki kita akan menjadi saksi. Ini adalah peringatan yang sangat kuat yang harus selalu kita renungkan.

Asam deoksiribonukleat, lebih dikenal dengan DNA (bahasa Inggris: deoxyribonucleic acid), adalah sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering setiap organisme. Di dalam sel, DNA umumnya terletak di dalam inti sel. DNA berisi informasi untuk melaksanakan kegiatan sel. Bagaimana informasi ini dikodekan atau diteruskan dari sel ke sel pada satu waktu yang tidak diketahui. Untuk memecahkan kode, Anda akan menentukan struktur DNA dan menunjukkan bagaimana kode genetik dilakukan. Kegiatan ini terdiri dari tiga bagian. Untuk setiap bagian yang Anda akan bekerja dengan pasangan untuk menemukan struktur DNA dan bagaimana kode genetik dilakukan.


Secara ilmiah kita bisa mengatakan bahwa badan kita ini memang bisa menjadi saksi dari seluruh perbuatan kita. Sebuah teori mengatakan bahwa sebenarnya segala kejadian di alam raya ini tidak ada yang hilang tanpa terekam. Kejadian-kejadian itu terekam di angkasa juga di dalam diri kita sendiri. Sebagai contoh dari proses perekaman ini adalah fungsi DNA (deoxyribonucleic acid) dan gen. DNA dan gen berfungsi sebagai perekam semua bentuk dan karakter/watak kita. DNA terdapat di dalam gen, gen ada di dalam kromosom, dan kromosom terdapat di dalam sel. Dan perlu kita tahu bahwa semua makhluk hidup memiliki sel. Baik DNA, gen, kromosom, dan sel, semuanya adalah benda-benda mikroskopis (yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop). Tetapi justru di dalam DNA itulah terekam seluruh informasi mengenai diri kita. Apakah rambut kita ikal atau lurus, hidung kita pesek atau mancung, watak kita penggembira atau gampang sedih, watak kita supel atau tertutup, semuanya ada di dalam benda-benda yang tak terlihat oleh mata telanjang kita.

Oleh karenanya, jika al-Quran mengatakan bahwa badan kita menjadi perekam dari seluruh perbuatan kita, adalah suatu hal yang benar adanya. Karena di dalam tubuh kita ini terdapat milyaran DNA dan gen. Dan semuanya itu kelak akan berbicara pada Allah SWT melalui tangan dan kaki kita seperti dilukiskan di dalam surat Yasin ayat 65 tersebut.

Maka dari itu, semua ini harus menjadi peringatan bagi kita. Hidup di dunia hanya satu kali. Setiap kejadian yang kita alami hanya terjadi sekali. Bahkan setiap detik, menit, dan jam, tidak mungkin terulang lagi. Maka hendaknya kita terus berupaya meningkatkan kualitas hidup kita secara serius. Demikian semoga bermanfaat.

Baca artikel terkait dengan DNA & Tuhan "DNA dan Titik Tuhan (God Spot)" di http://goo.gl/xFP5tN  dan "Pesan Tuhan dalam Gen Kita" di http://goo.gl/L6DAPR.


 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
23